Jumat, 21 Maret 2025
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 7-9
1 Samuel 9:7-8 (TB) Jawab Saul kepada bujangnya itu: "Tetapi kalau kita pergi, apakah yang kita bawa kepada orang itu? Sebab roti di kantong kita telah habis, dan tidak ada pemberian untuk dibawa kepada abdi Allah itu. Apakah yang ada pada kita?"
Jawab bujang itu pula kepada Saul: "Masih ada padaku seperempat syikal perak; itu dapat aku berikan kepada abdi Allah itu, maka ia akan memberitahukan kepada kita tentang perjalanan kita."
Saul bersama bujangnya (pelayannya) kehabisan bekal di perjalanan, padahal mereka hendak menemui abdi Allah (nabi Samuel). Sudah menjadi ketetapan Taurat apabila umat hendak menghadap Tuhan atau abdi Allah, mereka tidak boleh datang dengan tangan hampa.
Bujang (pelayan) Saul dengan rela memberikan seperempat syikal perak (3 gram) untuk tuannya agar bisa membawa pemberian kepada abdi Allah. Dan itu adalah satu-satunya hartanya yang terakhir dan tidak seberapa nilainya. Bila dikorversi ke dalam nilai sekarang (1 gram perak senilai maksimal Rp 100.000), maka persembahan dari pelayan Saul hanyalah Rp 300.000. Sebuah nilai yang kecil pada umumnya, tetapi sangat besar bagi bujang Elia karena satu-satunya harta yang terakhir yang dimiliki.
1 Samuel 9:7-8 (FAYH) Saul menjawab, "Tetapi kita tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan kepada nabi itu. Bahkan makanan kita juga sudah habis dan tidak ada suatu apa pun yang dapat kita berikan kepadanya. Jadi, apa lagi yang ada pada kita? "
Pelayan itu menyahut, "Lihat, saya masih mempunyai seperempat syikal (3 gram) perak. Setidak-tidaknya perak ini dapat kita berikan kepadanya dan kita lihat saja apa yang akan terjadi. "
Berdasarkan kisah tersebut ada beberapa hal yang penting untuk kita renungkan, yaitu:
1. Memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
2. Rela berkorban atau memberkati tuannya (pemimpin) sekalipun hanyalah seorang pelayan (hamba).
3. Harta terakhir yang dipersembahkan kepada Tuhan akan mendatangkan berkat.
4. Sebagai pelayan bukan hanya berkorban tenaga tetapi juga keuangan bagi Tuhan.
Kita ingat juga janda di Sarfat dengan taat memberikan tepung dan minyak terakhirnya untuk dimasak dan diberikan kepada Elia (abdi Allah). Hasilnya tepung dan minyak tidak pernah habis selama masa kelaparan.
Karena korban yang diberikan oleh bujangnya, Saul bisa menghadap Samuel dengan membawa pemberian sehingga tanpa diduga sebelumnya ia diurapi menjadi raja bagi bangsa Israel. Persembahan dari bujang (pelayan) Saul meskipun kecil telah berkontribusi besar dalam kesuksesan Saul. Marilah kita renungkan dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita rela mempersembahkan kepada Tuhan, bahkan dari harta terakhir yang ada pada kita? Kiranya Tuhan yang akan memberkati orang-orang yang setia dan rela berkorban untuk Tuhan dan para pemimpin. Tuhan Yesus memberkati. (PBW)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar