Menjaga Perkataan

 


Sabtu, 29 Mei 2021


Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 25-27


Ayub 27:3-4 (TB)  selama nafasku masih ada padaku, dan roh Allah masih di dalam lubang hidungku,
maka bibirku sungguh-sungguh tidak akan mengucapkan kecurangan, dan lidahku tidak akan melahirkan tipu daya.


Pada saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Tuhan meminta pertanggungjawaban Adam. Tetapi Adam mengelak dan menyalahkan isterinya serta Hawa menyalahkan ular.


Kejadian 3:12 (TB)  Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
Kejadian 3:13 (TB)  Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." 


Sesungguhnya Tuhan hanya menginginkan pengakuan atas dosa yang mereka perbuat, tetapi mereka mengelak dan menyalahkan pihak lain.


Akibat kejatuhan tersebut maka dosa menurun kepada semua manusia keturunan Adam dan Hawa sampai kepada kita. Dosa itu adalah mengucapkan kebohongan, kecurangan dan tipu daya. Tanpa diajari pun seorang anak kecil akan bisa berbohong. Misalnya takut dimarahi orang tua, maka ia akan berbohong dan tidak mau mengakui kesalahannya.


Dalam menjalani pergumulannya Ayub berkomitmen untuk menjaga lidahnya dari dosa kecurangan dan tipu daya. Tanpa komitmen untuk menjaga lidah, dosa ini akan mudah mempengaruhi kita. Yakobus mengatakan komitmen menjaga lidah seperti mengenakan kekang kepada mulut kuda. Tujuannya supaya taat kepada perintah tuannya.


Yakobus 3:2-3 (TB)  Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.


Jadi ada usaha yang kuat supaya kita bisa terus menjaga kekudusan dan kebenaran dalam ucapan kita.
Marilah kita merenungkan:
1. Apakah masih ada ucapan kita yang berisi ketidakbenaran?
2. Apakah kita mau sungguh-sungguh (komitmen) menjaga perkataan?


Salah satu kunci alami dalam menjaga lidah adalah dengan mengisi hati dengan firman Tuhan dan mengucapkan-Nya melalui lidah bibir kita. Hal ini akan membentuk dan mengkondisikan lidah dan perkataan kita untuk tunduk pada kebenaran. Juga akan memberikan rambu-rambu kebenaran sehingga kita tidak lagi melanggarnya.


Mintalah kepada Tuhan setiap hari untuk menguduskan lidah bibir kita dan memampukan kita menjaganya dalam kekudusan. Selamat berakhir pekan, Tuhan Yesus memberkati. (Ps.BW)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages