Sabtu, 30 Mei 2026
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 28-30
“Permainan kecapiku menjadi ratapan, dan tiupan serulingku menyerupai suara orang menangis.”
— Ayub 30:31 (TB)
Dalam hidup, tidak selalu nada yang kita mainkan adalah nada sukacita. Ada masa ketika hati dipenuhi syukur dan pujian, namun ada juga waktu ketika senyum berubah menjadi air mata. Ayub memahami perasaan itu. Ia pernah menikmati berkat, tetapi kemudian mengalami kehilangan dan penderitaan yang mendalam. Bahkan musik yang biasanya membawa kegembiraan berubah menjadi ratapan.
1. Hidup Tidak Selalu Bernada Bahagia
Ayub menunjukkan kenyataan bahwa hidup memiliki musim yang berbeda. Ada masa tertawa, ada masa menangis. Iman bukan berarti kita tidak pernah terluka, melainkan tetap percaya di tengah luka.
Kesedihan bukan tanda Allah meninggalkan kita. Kadang justru dalam lembah dukacita, kita belajar mengenal hati-Nya lebih dalam.
2. Tuhan Mengerti Ratapan Kita
Ayub tidak memendam perasaannya. Ia jujur di hadapan Allah tentang penderitaannya. Tuhan tidak menolak doa yang penuh tangisan.
Sering kali kita merasa harus selalu tampak kuat. Namun Allah tidak meminta kepura-puraan. Dia menerima hati yang datang dengan tulus, bahkan ketika yang keluar hanyalah keluhan dan air mata.
3. Ratapan Tidak Selalu Menjadi Akhir Cerita
Nada ratapan Ayub tidak berhenti selamanya. Tuhan tetap bekerja meskipun keadaan belum berubah. Apa yang hari ini terdengar seperti suara tangisan, di tangan Tuhan dapat diubah menjadi kesaksian.
Kadang kita belum melihat jawabannya, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti menulis kisah pemulihan.
“Tuhan bukan hanya hadir saat kita bernyanyi dalam sukacita, tetapi juga saat kita menangis dalam sunyi.”
Jika hari-hari ini “lagu” hidupmu terasa berubah menjadi ratapan, jangan menjauh dari Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan hati yang jujur. Tetap percaya, sebab Tuhan sanggup mengubah tangisan menjadi pengharapan dan ratapan menjadi pujian kembali. Selamat beraktifitas, Tuhan Yesus memberkati. (PBW)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar