Bijak Dalam Bernazar


Sabtu, 14 Maret 2026

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 10-12

Lalu Yefta bernazar kepada TUHAN, katanya: "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa pun yang keluar dari pintu rumahku untuk menyongsong aku, apabila aku kembali dengan selamat dari bani Amon itu, akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran." (Hakim-hakim 11:30–31 TB)

1. Nazar sering lahir dari tekanan hidup.

Dalam situasi perang melawan bani Amon, Yefta membuat nazar kepada Tuhan. Tekanan dan ketakutan sering membuat seseorang berjanji sesuatu kepada Tuhan. Namun keputusan yang dibuat dalam emosi bisa menjadi keputusan yang tidak bijaksana.

2. Perkataan kepada Tuhan harus dipikirkan dengan serius.

Nazar adalah janji yang sakral di hadapan Tuhan. Apa yang kita ucapkan tidak boleh sembarangan. Tuhan tidak menuntut kita untuk bernazar, tetapi ketika kita mengucapkannya, Tuhan memandangnya dengan serius.

3. Lebih baik taat daripada bernazar tanpa hikmat.

Tuhan sebenarnya menginginkan ketaatan dan hati yang setia, bukan janji yang tergesa-gesa. Kehidupan yang taat setiap hari jauh lebih berharga daripada nazar yang dibuat tanpa pertimbangan.

Penutup:
Renungan ini mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan kepada Tuhan. Jangan mudah membuat janji dalam doa karena dorongan emosi. Mintalah hikmat agar setiap perkataan kita mencerminkan hati yang takut akan Tuhan.

Doa Singkat:
“Tuhan, ajar kami untuk bijak dalam berkata-kata di hadapan-Mu. Berikan kami hati yang taat dan penuh hikmat, supaya setiap janji dan perkataan kami berkenan kepada-Mu. Amin.” (PBW)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages