Senin, 7 September 2026
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 25-27
Yehezkiel 26:2 (TB)
"Hai anak manusia, oleh karena Tirus berkata mengenai Yerusalem: Syukur! Sudah rusak pintu gerbang bangsa-bangsa itu; ia akan beralih kepadaku, sehingga aku menjadi penuh, tetapi ia menjadi reruntuhan."
Tirus melihat kehancuran Yerusalem bukan sebagai sesuatu yang perlu disesalkan, tetapi sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Ketika orang lain jatuh, Tirus justru berkata, “Syukur!” karena berharap kehancuran Yerusalem akan membuat dirinya semakin penuh.
Dari ayat ini kita belajar bahwa hati yang salah dapat melihat penderitaan orang lain sebagai peluang untuk keuntungan pribadi.
1. Jangan bersukacita ketika orang lain jatuh
Kejatuhan seseorang seharusnya tidak menjadi alasan bagi kita untuk merasa lebih tinggi atau lebih berhasil. Tuhan menghendaki kita memiliki hati yang berbelas kasih, bukan hati yang menikmati kegagalan orang lain.
Ketika seseorang jatuh, mungkin Tuhan sedang mengajar kita untuk mendoakan, menolong, dan memulihkan, bukan menghakimi.
2. Jangan membangun keberhasilan di atas kehancuran orang lain
Tirus berpikir, “Dia menjadi reruntuhan, aku menjadi penuh.”
Ada bahaya ketika kita mulai membandingkan diri dan merasa bahwa kegagalan orang lain adalah keuntungan bagi kita. Keberhasilan yang sejati tidak perlu dibangun dengan berharap orang lain gagal.
Apa yang Tuhan berikan kepada kita tidak perlu direbut dari kehidupan orang lain.
3. Jagalah hati dari kesombongan dan iri hati
Kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa di dalam hati ada rasa puas ketika orang yang kita anggap sebagai saingan mengalami kegagalan.
Mari bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah aku benar-benar sedih ketika orang lain jatuh, atau justru diam-diam merasa senang?”
Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi juga melihat sikap hati kita.
4. Belajar bersukacita atas kebaikan orang lain
Kedewasaan rohani terlihat ketika kita mampu berkata, “Aku bersyukur melihat Tuhan memberkati hidupmu,” bahkan ketika kita sendiri masih sedang menunggu berkat Tuhan.
Kita tidak perlu takut kehilangan bagian kita hanya karena orang lain diberkati.
Berkat orang lain bukan ancaman bagi hidup kita.
5. Serahkan keadilan kepada Tuhan
Yerusalem mengalami kehancuran, tetapi Tirus juga akhirnya menerima penghakiman Tuhan. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan melihat setiap hati dan setiap tindakan.
Karena itu, jangan membalas, jangan menikmati kejatuhan orang lain, dan jangan mengambil keuntungan dari penderitaan sesama.
Biarlah Tuhan yang menjadi hakim, sementara kita memilih untuk tetap memiliki hati yang benar.
Penutup
Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang jatuh, gagal, atau mengalami masa yang sulit. Jangan jadikan kelemahannya sebagai kesempatan untuk meninggikan diri.
Sebaliknya, jadilah orang yang membawa penguatan.
Ketika orang lain jatuh, jangan ikut menjatuhkan.
Ketika orang lain terluka, jadilah pembawa pemulihan.
Dan ketika orang lain diberkati, belajarlah untuk bersyukur.
Mari periksa hati kita hari ini.
Apakah kita sedang membangun diri dengan kasih, atau diam-diam menikmati kejatuhan orang lain?
Jika renungan ini memberkati Anda, bagikan kepada seseorang yang membutuhkan penguatan hari ini. Selamat beraktifitas, Tuhan Yesus memberkati. (PBW) 🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar