Rabu, 7 Oktober 2026
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 11-14
Zakharia 11:10 (TB)
"Aku mengambil tongkatku 'Kemurahan', lalu mematahkannya untuk membatalkan perjanjian yang telah kuikat dengan segala bangsa."
Kemurahan Tuhan adalah sesuatu yang sering kita terima setiap hari, tetapi terkadang justru kita anggap biasa. Kita menikmati pertolongan-Nya, kesempatan yang diberikan-Nya, pengampunan-Nya, dan penyertaan-Nya, tetapi lupa bahwa semua itu adalah anugerah.
Ayat ini menggambarkan sebuah tindakan yang serius: tongkat bernama “Kemurahan” dipatahkan. Ini menjadi gambaran bahwa ada saat ketika hubungan dan perjanjian mengalami konsekuensi karena ketidaktaatan umat.
1. Jangan menganggap kemurahan Tuhan sebagai sesuatu yang biasa
Setiap kesempatan untuk memperbaiki diri adalah kemurahan Tuhan. Setiap hari yang kita jalani adalah kesempatan untuk kembali kepada-Nya.
Jangan sampai kita terus menunda pertobatan karena merasa Tuhan akan selalu memberi kesempatan yang sama.
2. Kemurahan Tuhan seharusnya membawa kita kepada pertobatan
Kemurahan Tuhan bukan izin untuk hidup sembarangan. Justru karena Tuhan begitu baik, hati kita seharusnya terdorong untuk hidup semakin dekat dengan-Nya.
Roma 2:4 mengingatkan bahwa kemurahan Tuhan menuntun kita kepada pertobatan.
3. Jangan menyalahgunakan kesabaran Tuhan
Tuhan panjang sabar, tetapi kesabaran-Nya bukan berarti dosa tidak memiliki konsekuensi.
Jangan berkata, “Tidak apa-apa, Tuhan pasti mengampuni.”
Pengampunan Tuhan harus menghasilkan perubahan hidup, bukan menjadi alasan untuk terus mengulangi kesalahan.
4. Hargai setiap kesempatan yang Tuhan berikan
Mungkin hari ini Tuhan sedang memberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungan, meninggalkan kebiasaan buruk, mengampuni seseorang, atau kembali melayani-Nya.
Jangan menunggu sampai kesempatan itu berlalu baru kita menyadari betapa berharganya kemurahan Tuhan.
5. Hiduplah dalam ucapan syukur dan ketaatan
Orang yang menyadari besarnya kemurahan Tuhan tidak akan hidup sembarangan. Ia akan berkata, “Tuhan sudah begitu baik kepadaku, maka aku ingin hidup menyenangkan hati-Nya.”
Hari ini, mari kita berhenti menganggap kemurahan Tuhan sebagai sesuatu yang otomatis. Terimalah kemurahan-Nya dengan hati yang bersyukur dan responsilah dengan ketaatan.
Doa:
Tuhan, terima kasih untuk kemurahan-Mu yang selalu menyertai hidup kami. Ampuni kami jika selama ini kami menganggap remeh kesempatan dan kebaikan yang Engkau berikan. Ajarlah kami menghargai kemurahan-Mu, hidup dalam pertobatan, dan berjalan dalam ketaatan kepada-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.
Renungkan:
Apakah selama ini saya sedang menghargai kemurahan Tuhan, atau justru menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa?
Bagikan renungan ini kepada seseorang yang perlu diingatkan bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk kembali kepada Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. (PBW)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar